Zainul Mustofa

Laki-laki, 18 tahun

suroboyo, Indonesia

Banggalah pada dirimu sendiri, Meski ada yang tak Menyukai. Kadang mereka membenci karena Mereka tak mampu menjadi seperti dirimu.
::
WELCOME
Zainul Mustofa
Salam Satu Nyali

Navbar3

Search This Blog

BONEK BUKAN SEKEDAR SUPORTER


BONEK…

Bukan sekedar frase yg selalu bermakna negatif. Bagi saya Bonek adalah sebuah jiwa dan prinsip Bangsa dan Rakyat Indonesia, bahkan sebelum lahirnya PSSI, AREMA bahkan PERSIJA. Juga sebuah falsafah bangsa yang menjadi ciri sebuah bangsa misalkan di Jepang ada Samurai, sedangkan di Indonesia ada Bonek.
...
Apa yang membuktikannya ?
Tidak akan terobek terbelah kain bendera belanda menjadi merah putih diatas hotel penjajah hanya bermodal BONEK oleh BONEK-BONEK SURABAYA. Lusuhnya kulit, berkerutnya daging dan kusamnya pakaian tak goyah ditengah kungkungan sniper-sniper kolonial.
Tidak akan ada yg membakar semangat semacam Bung Tomo dengan aksi BONEKnya mengeluarkan untaian-2 paragrap demi paragrap propaganda dan doktrin kemerdekaan kepada para aktivis kemerdekaan ditengah ancaman keselamatan jiwanya dari sabotase kolonial.
Tidak akan yang berani menyerang Polisi dan Tentara Kolonial yang bersandangkan senapan, berkendaraan lapis baja, mortir dan granat dengan sepotong Bambu runcing di Jembatan Merah kalau bukan BONEKnya Surabaya juga BONEKnya Rakyat Indonesia.
Tidak akan ada yang seBONEK Bung Karno untuk melawan bangsa-bangsa Kolonial dan Imperialis seolah enggan berdiri MALU menjadi sebagai PEMIMPIN karena lebih takut tidak mampu menjadi PELINDUNG MARTABAT RAKYATNYA.
BONEK adalah Falsafah yg harus dikembangkan…Jangan jadikan sebagai Tittle penarik simpati pembaca media massa ketika ada rusuh suporter. Jadikan BONEK sebagai jiwa bagi bangsa yang sedang membangun. BONEK membangun tanpa bantuan feodalis, BONEK membangun Citra dan Harga Diri bangsa, BONEK bekerja tanpa harap pujian, BONEK mengabdi & BONEK untuk segera bangkit dari permasalahan ekonomi dan bencana.
BONEK ADALAH JIWA PEMBERANI DAN MALU UNTUK KALAH.
BONEK ADALAH MOTIVASINYA RAKYAT DAN MALUNYA RAKYAT UNTUK DIINJAK-INJAK, DIMONOPOLI DAN DIKUNGKUNG UNTUK DIPERJUAL-BELIKAN DENGAN SESUATU YANG RENDAH-HINA.
BONEK ADALAH KEPALAN TANGAN YANG POSISINYA PALING TINGGI DIANTARA ANGGOTA BADAN YANG LAIN DAN TERIAKAN YANG PALING MENGGETARKAN DIANTARA SUARA ALAM YG LAIN MENUNJUKKAN BAHWA KAMI BISA … PANTANG PULANG TERTUNDUK DAN PANTANG RAGU-RAGU.
BONEK ADALAH JALAN LURUS YANG TIDAK ADA TIKUNGAN DAN BELOKAN UNTUK MENCAPAI MENARA KEJAYAAN.
BONEK tempatnya bukan hanya ada diTambakSari, Kerikil batu cadas yg menghantam tameng pasukan Dalmas, truk atau kereta api yg penuh dengan lembaran-lembaran corak kain berwarna hijau menyala dengan gambar seorang kumuh berambut gimbal sambil berteriak terikat melingkar kain dikepalanya atau kata - kata yang ada disetiap gang diKota Malang “Bonek dilarang Masuk” atau “Area bebas Bonek”: Tapi sejatinya BONEK sudah ada di Hati Bangsa Indonesia yang tanggal lahirnya tidak pernah bisa ditelusuri.
BONEK BUKAN SEKEDAR SUPORTER TAPI JUGA SELURUH JIWA DAN RAGA.
BONEK BONDO NEKAT... LEK GK NEKAT YO GK WANI.....!!!
SALAM'E AE SALAM SATU NYALI.... WANI...!!!!

Read More --►

Asal mulai kata JANCOK


Asal mula dan arti kata
Jancok
Bagi kalian yang orang jawa
timur, pasti sudah tak asing lagi
dengan kata jancok, kata ini
sangat terkenal di jawa timur,
Bahkan orang-orang di jawa
tengah dan jawa barat pun
sering mengucapkan kata ini.
Lantas apa sebenarnya arti kata
Jancok dan bagaimana asal
mulanya bisa terbentuk kata ini.
Jancok atau dancok adalah
sebuah kata khas Surabaya yang
telah banyak tersebar hingga
meluas ke seantero Indonesia
bahkan sudah mendunia. Warga
Jawa Timur seperti Surabaya,... Malang dll turut andil dalam penyebaran kata ini. Spoiler for jancok: Show Jancok berasal dari kata 'encuk' yang memiliki padanan kata bersetubuh atau fuck dalam bahasa Inggris. Berasal dari frase 'di-encuk' menjadi 'diancok' lalu 'dancok' hingga akhirnya menjadi kata 'jancok'. Ada banyak varian kata jancok, semisal jancuk, dancuk, dancok, damput, dampot, diancuk, diamput, diampot, diancok, mbokne ancuk (=motherfucker), jangkrik, jambu, jancik, hancurit, hancik, hancuk, hancok, dll. Kata jangkrik, jambu adalah salah satu contoh bentuk kata yang lebih halus dari kata jancok. Makna asli kata tersebut sesuai dengan asal katanya yakni 'encuk' lebih mengarah ke kata kotor bila kita melihatnya secara umum. Normalnya, kata tersebut dipakai untuk menjadi kata umpatan pada saat emosi meledak, marah atau untuk membenci dan mengumpat seseorang. Namun, sejalan dengan perkembangan pemakaian kata tersebut, makna kata jancok dan kawan-kawannya meluas hingga menjadi kata simbol keakraban dan persahabatan khas (sebagian) arek-arek Suroboyo. Kata-kata ini bila digunakan dalam situasi penuh keakraban, akan menjadi pengganti kata panggil atau kata ganti orang. Misalnya, "Yoopo kabarmu, cuk", "Jancok sik urip ae koen, cuk?". Serta orang yang diajak bicara tersebut seharusnya tidak marah, karena percakapan tersebut diselingi dengan canda tawa penuh keakraban dan berjabat tangan dong... Hehehehe.... Kata jancok juga bisa menjadi kata penegasan keheranan atau komentar terhadap satu hal. Misalnya "Jancok! Ayune arek wedok iku, cuk!", "Jancuk ayune, rek!", "Jancuk eleke, rek", dll. Kalimat tersebut cocok dipakai bila melihat sesosok wanita cantik yang tiba-tiba melintas dihadapan. Hehe... Akhiran 'cok' atau 'cuk' bisa menjadi kata seru dan kata sambung bila penuturnya kerap menggunakan kata jancok dalam kehidupan sehari-hari. "Wis mangan tah cuk. Iyo cuk, aku kaet wingi lak durung mangan yo cuk. Luwe cuk.". Atau "Jancuk, maine Arsenal mambengi uelek cuk. Pemaine kartu merah siji cuk. dan memang, kata ini sangat enak diucapkan, sampai sampai saya ketagihan mengucapkan kata ini, walaupun arti yang saya tekankan bukanlah arti kotor, tapi hanya sekedar kata pemanggilan saja, dan ternyata di pergaulan saya kata itu sudah biasa


Read More --►

bonek viking satu hati


 Melihat sejarah, VIKING dan BONEK adalah pendukung sejati dari klub perserikatan yang sudah menjadi musuh bebuyutan dari sejak jaman perserikatan, yaitu PERSIB dan PERSEBAYA. Dilihat dari kacamata awam, tidak mungkin pendukung sejati yang berani mati demi mendukung timnya bisa bersahabat bahkan bersaudara dengan pendukung sejati yang sama-sama berani mati demi mendukung tim musuh bebuyutan. Tetapi ternyata VIKING dan BONEK membuktikan bahwa mereka bisa. Persaudaraan mereka dilandasi perasaan senasib dimana mereka selalu dijadikan bahan hujatan dan pendiskreditan dari masyarakat sepakbola nasional. Bahkan pers nasional pun paling senang apabila ada kerusuhan di partai yang melibatkan PERSIB atau PERSEBAYA karena bisa dijadikan headline dan sudah jelas pihak mana yang akan disalahkan.

Sejak dulu VIKING dan BONEK diidentikkan dengan kerusuhan. Istilahnya dimana ada pertandingan yang ditonton oleh VIKING atau BONEK maka akan terjadi kerusuhan. Hal-hal jelek dan bersifat mendiskreditkan itulah yang lebih sering diekspos oleh media massa nasional. Padahal tidak semua kegiatan atau kelakuan VIKING dan BONEK berujung pada kerusuhan. Dan tidak semua kerusuhan itu diakibatkan oleh mereka. Mereka hanyalah kaum tertindas yang selalu dipersalahkan karena dosa-dosa di masa lalu. Sangat jarang sekali (atau bahkan tidak pernah?) media massa nasional memberitakan kegiatan positif yang VIKING atau BONEK lakukan. Sangat jauh berbeda dengan pemberitaan media massa nasional tentang pendukung tim lain. Ketika terjadi kerusuhan yang melibatkan mereka hanya ditulis sedikit (atau bahkan tidak ditulis sama sekali?) dan ditutupi dengan kata-kata “oknum yang mengatasnamakan pendukung…”. What a bullshit! Sedangkan ketika melakukan kegiatan positif, media massa nasional langsung memberitakan secara besar-besaran, sebesar berita kerusuhan yang melibatkan VIKING atau BONEK. Bahkan saking terlalu seringnya pemberitaan yang memojokkan VIKING sebagai bobotoh PERSIB, bobotoh lain yang bukan anggota VIKINGpun menjadi antipati terhadap media massa nasional. Sampai ada jargon di kalangan bobotoh bahwa “PERSIB besar bukan karena pemberitaan media massa nasional, PERSIB besar karena bobotoh dan prestasi. PERSIB dan bobotoh tidak membutuhkan media massa nasional untuk menjadi besar. Media massa nasional-lah yang membutuhkan PERSIB untuk menjadi besar dan terkenal”.

Hal itulah yang mungkin menjadi salah satu penyebab munculnya perasaan senasib dan berkembang menjadi ikatan persaudaraan, selain tentunya kerusuhan di Jakarta dimana BONEK yang hendak mendukung PERSEBAYA di Senayan diserang oleh sepasukan organisasi masyarakat (?), yang tidak usah saya sebutkan disini karena semua juga sudah tau, dan kemudian diselamatkan oleh beberapa bobotoh (anggota VIKING) yang kebetulan sedang ada disana. Juga ketika PERSIB melawat ke Surabaya, dimana anggota VIKING yang mendukung PERSIB di sana dijamu sangat baik oleh BONEK. Demikian pula ketika PERSEBAYA yang bertanding di Bandung, giliran BONEK yang dijamu sangat baik oleh VIKING.
Indahnya persaudaraan diantara dua kubu suporter TERBESAR di Indonesia itu. Jadi saat ini BONEK bukan hanya berarti BONDO NEKAT, tapi bisa juga berarti BOBOTOH NEKAD.
Karena VIKING atau BONEK sama saja..!!!
dan Karena VIKING BONEK SATU HATI...!!!
ANTI PROVOKATOR JANCOK
Read More --►